Balada Roker (2) : Menanti Kereta Harapan

Di Balada Roker (1), gw kayaknya lupa menjelaskan apa itu roker. Jadi roker itu adalah sebuah istilah untuk para pengguna kereta api, singkatan dari rombongan kereta(roker). Jadi kalo kalian liat ada orang bergerombol nunggu kereta, berdesak-desakan untuk masuk ke dalam kereta, berdiri diam mematung di dalam kerangka besi dan baja dengan muka datar dan tanpa ekspersi, bolehlah kalian sebut itu roker.

Bercerita tentang krl jabodetabek itu seperti bercerita pada anak tiap malam, ga pernah ada abisnya walaupun diceritakan setiap malam. Salah satu cerita yang bakal gw ceritain adalah kondisi kereta pulang pada hari selasa, 6 Desember 2011 kemarin.

Hari itu gw pulang agak cepet, kurang lebih magrib dari kantor Jasa Raharja, client tempat gw kerja di daerah kuningan persis disamping gedung KPK. Waktu menunjukan pukul 18.00. Demi mengejar kereta jam 18.15, gw pun mempercepat langkah ke stasiun sudirman dari shelter busway (shelter di bawah fly over kuningan).

Sampai di sudirman gw liat para roker sudah bergerombol di peron 2, peron untuk penumpang arah Manggarai. Perasaan udah ga enak, gangguan(lagi) nih kayaknya. Dan bener aja, gw cek di timeline kalo di stasiun Tanjung Barat ada gangguan. Megaphone dengan suara ga enak di stasiun yang berasal dari petugas kereta pun mengatakan demikian. Jam 18.30 si suara megaphone masih aja minta maaf atas gangguan yang terjadi dan mulai mengatakan supaya penumpang kereta mencari alternatif kendaraan lain. Oke, it’s mean bakalan lamaaaa buaaanget. Cek di timeline lagi, ada foto yang ngeshare bahwa ada orang yang kesetrum, gosong , meninggal di stasiun Tanjung Barat. Resmi, bakal lama.

Otak gw berputar (aslinya mah otaknya diam ga kemana-mana, ini maksudnya gw lagi mikir, tapi harusnya ga perlu dijelasin juga sih :p)  apa ya alternatif pulang. Waktu menunjukan pukul 19.00. Pun si megaphone masih minta maaf. Ya ampun tu petugas bisa masuk surga loh karena ahli ibadah, ibadah minta maaf. Alternatif yang terpikirkan oleh gw adalah :
1. Naik bus. Itu berarti harus ke pasar rebo. Meeen jauh. Ini berarti harus ke sana pake kendaraan umum, bisa taksi, bis, kopaja dengan waktu lebih lama daripada naik kereta yang “lancar”.
2. Cari tebengan. Berharap ada wanita cantik bawa mobil bagus nawarin tumpangan ke Bogor.  *digeplak istri pas sampe Bogor

Dari dua alternatif itu, pilihan pertama yang lebih masuk akal, sedangkan pilihan dua itu gw eksekusi dengan bikin twit cari tebengan. Dan jawaban atas pilihan pulang pun datang dari timeline. Temen gw, si ratu bogor, mbe @_citz, yang namanya bikin gw dimaki-maki waktu MOS SMA, bilang ke gw supaya naik Agra Mas aja di Deptan, Cilandak.

Aha, gw berasa ada sinar yang menyinari gw ditengah ke gelapan nasib perkereta apian. Gw pun keluar dari stasiun dengan terlebih dahulu menukarkan tiket yang udah dibeli di loket. Keluar dari stasiun sudirman terlihat jalanan sudirman yang macet tak bergerak. Mungkin ada rombongan si komo yang lagi lewat.

Berdasarkan petuah para warga roker (@priyoPH,@bim0,@_citz) untuk ke Deptan itu paling mudah dicapai dengan menggunakan busway dari Shelter Dukuh Atas. Sampai di shelter, jeng jeng, ada robus( *ini mah istilah gw aja buat para rombongan busway :P) . Ya ampun itu kaya antri sembako men. Karena macet di sudirman berimbas pada busway, yaitu para bus ga bisa masuk shelter karena tertahan kemacetan kendaraan yang akan ke sudirman. Dan setengah jam pun dihabiskan untuk berkeringat menunggu bus pengangkut warga butuh sembako ini.

Perjalanan ke shelter deptan cukup lancar. Sampai disana bingung harus nunggu si Agra Mas ini dimana. Jadi akhirnya gw memutuskan untuk lanjut ke terminal Lebak Bulus. Sekitar jam 20.45 gw udah nangkring di bis terakhir. Lucunya jam segitu gw di sms temen yang bertahan menunggu kereta jalan yang mengabarkan kalo di udah di stasiun UI. Meen, gw masih di lebak bulus di bis yang masih sepi sedangkan dia udah di UI meen, yang artinya setengah jam lagi sampe Bogor. Gw, jauh banget kesini. Akhirnya setelah pingsan (tidur) di bis,, jam 22.00 udah sampai Bogor pun. Ngaso di rumah jam 22.30.

Kereta sebagai transportasi masif dan andalan para kuli Jakarta yang bertempat tinggal di kota satelitnya (Depok,Tangerang,Bekas,Bogor) masih jauh dari bisa diandalkan. Dari pertama gw kerja, gw lihat sih pelayanannya udah lumayan ada perbaikan, artinya ada niatan untuk memperbaiki. Namun tidak demikian dengan perangkat perkereta apiannya seperti gerbong dan perangkat pendukungnya seperti wesel dan listrik. Seperti beberapa kereta yang AC-nya udah ga dingin lagi sehingga kalo lagi penuh itu dalemnya pepes manusia men. Udah jadi makanan lezat kita buat Godzila. Pun dengan perangkatnya, yang paling sering adalah ketika hujan selalu ada masalah dengan gangguan wesel. Wesel itu buat ngirim uang jam bapak kita kuliah dulu, bukan ini perangkat pemindah jalur kereta. Yang entah dibuat dari apa, si wesel ini selalu di KO ketika hujan turun.

Kesemrawutan kereta ini di hari itu juga memaksa gw berdepat dengen beberapa teman di twitter. Asal muasalnya adalah di timeline gw banyak banget liat sumpah serapah yang ditujukan untuk @KRL_Jabodetabek dan tentu aja PT KAI. Dapat dimaklumi juga sih karena saking sebelnya terhadap kereta yang ga ada habisnya. Yang gw sayangkan adalah kenapa harus dengan mencaci maki, sampai dengan kata-kata kasar. Apakah kita harus saling menganiaya jika kita dianiaya. Agama apa pun tidak mengajarkan demikian bukan? Apalagi dengan tingkat pendidikan yang disandang, dimanaka intelektualitas kita. Mengkritik itu bagus, namun jika caranya tidak bener, walaupun maksudnya bagus, maka akan ditanggapi secara negatif bukan.

Dalam menanti kereta harapan ini gw berharap orang-orang seperti itu sadar bahwa makian, cacian tidak akan menyelesaikan masalah, malah dengan bersikap demikian hanya membawa aura negatif bagi para pengguna lainnya. Dan lucunya sih udah memaki-mencaci tapi tetep aja naik kereta lagi, mungkin itu yang disebut benci tapi cinta. “Apresiasi doang orang yang sebenernya mampu bawa mobil tapi sadar diri dan akhirnya naik kereta” begitu kata teman saya. Pertama kalo memang dia mampu, gw yakin dia bakal tetep bawa mobil. Seyakin-yakinnya gw bahwa orang itu sebenernya ga mampu bawa mobil sehingga naik kereta. Bukan berarti ga punya duit dan ga punya mobil, tapi emangnya mampu bawa kendaraan bermacet-macet ria?! Engga kan. Artinya emang ga mampu😛. Yang kedua selayaknya juga kita mengapresiasi ketika ada perbaikan di kereta. Nyatanya, hampir ga ada pujian ketika kereta lagi bener.

Dengan mencaci maki, sumpah serapah karena merasa di aniaya oleh kereta itu ga lebih baik dari orang (dalam hal ini kereta yang menganiaya Anda. Menanti kereta harapan selayaknya disikapi dengan positif, gw yakin kok mereka (KRL, PT KAI) pengen banget memberikan yang terbaik untuk para roker.

Salam,
 
Roker Bogor 07.15

2 Comments

Filed under Light~Life

2 responses to “Balada Roker (2) : Menanti Kereta Harapan

  1. Alhamdulillah gw udah ga jadi roker lagi… Sejak resign awal tahun kemaren dan kerja di depok. Hohoho… Perjuangan banget ya buat para Kuli Jakarta.. Dinikmati,,,😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s