Supir Angkot, Sewa, dan Korupsi

Sebagai orang Bogor yang juga terkenal sebagai kota sejuta angkot, rasanya sudah sering sekali saya mendengar keluh kesah orang-orang terhadap perilaku supir angkot yang menaikan dan menurunkan penumpang seenak perutnya. Tapi benarkah ini semata-mata kesalahan para sopir angkot yang dituduh tidak beradab ini?! Pertanyaan ini menggelitik pikiran saya sudah lama dan sudah juga mendapat jawabannya yang sejauh ini saya yakini jawaban itu dengan benar.
Ingatan saya kembali mengingat sebuah episode acara Kick Andy. Saya lupa judulnya, yang paling saya ingat di episode itu adalah ketika Pak Andy bercerita bagaimana ia berubah. Sebelumnya ia berkisah bahwa dirinya selalu bersungut-sungut saat berkendara mobil lalu ada angkot yang seenaknya berhanti. Hingga suatu saat istrinya yang duduk di sebelahnya berujar agar Pak Andy sabar, kita kan tak ada urgensinya terburu-buru, bayangkan sopir angkot itu harus kerja keras seharian berpanasan,bermacetan untuk mendapatkan nafkah bagi keluarganya. Diingatkan seperti itu menyadarkan Pak Andy untuk berempati dan memandang sesuatu tidak hanya dari sudut pandang dirinya.
Sebagai anak yang dibesarkan dari keluarga yang punya angkot pernah  sekali-kali saya mencoba menjadi sopir angkot tembak. Hanya sekali-kali saja, berdua dengan kakak tertua saya, biasanya malam minggu kami mencari uang jajan tambahan dengan narik angkot. Ngalong istilahnya karena dimulai diatas jam 10 malam sampai pagi buta. Saya pernah berada di posisi sopir angkot sehingga saya merasakan bahwa mencari penumpang atau biasa disebut sewa itu tidak mudah. Persaingan antar sopir memaksa para sopir ini memiliki strategi masing-masing untuk mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya. Tak heran jika melihat para sopir ini memarkir atau ngetem agak ke tengah jalan. Hal ini merupakan bagian strategi agar penumpang mau naik angkotnya karena penumpang selalu ingin yang praktis dan cepat. Angkot susah terisi penuh jika sang sopir terlalu ke tepi jalan karena akan dianggap akan ngetem lama oleh penumpang.
Lain naik, lain pula turun. Sewa selalu ingin berhenti di tempat terdekat tujuannya, bisa gang, tepi jalan, maupun depan rumah. Celakanya tempat-tempat tersebut tidak selalu memiliki cukup tempat untuk berhenti sehingga berhentinya angkot menyebabkan kemacetan untuk kendaraan di belakangnya. Para sopir ini sadar tapi tidak punya pilihan menghadapi rajanya yaitu sewa. Sang raja akan bersungut-sungut marah bahkan mencaci para sopir ini jika turun tidak pas dengan keinginananya. Dilema. Hal-hal seperti tidak pernah akan terbayang jika tidak pernah berada di sopir angkot.
Seperti korupsi antara penyuap dan koruptornya. Penyuap adalah sewa dan koruptor adalah sopir angkot. Dua-duanya salah dan patut disalahkan.Memperbaikinya bukan perkara koruptornya saja, juga harus dari sisi penyuapnya. Andaikan sewa pun mau mengerti saya yakin seyakinnya sopir pun dengan senang hati melayani. Misalnya sewa kompak untuk naik hanya di tepi jalan. Angkot pun akan senang hati untuk ngetem di tepi jalan sehingga jalanan bisa lancar.
Jadi tak adil jika hanya sopir angkot yang hanya disalahkan dan harus memperbaiki dirinya, juga para sewa harus mau sadar dan membantu untuk memperbaiki hal ini untuk kebaikan bersama. Pasti bisa, jika ada kemauan disitu ada jalan. Man jadda wa jadda.

Leave a comment

Filed under Light~Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s